Sejarah dan Filosofi Pijat Tradisional

Pijat dan Aromaterapi
Februari 9, 2018
Show all

Sejarah dan Filosofi Pijat Tradisional

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan SPA, disebutkan bahwa
sentuhan adalah bentuk komunikasi alamiah yang paling mendasar dan secara instink ada pada diri setiap orang. Sentuhan merupakan rangsangan yang telah dikenal sejak manusia berada di dalam kandungan ibu. Manusia telah menggunakan ‘sentuhan’ untuk menenangkan, untuk memberi semangat dan untuk menyembuhkan. Jika bagian dari tubuh merasa sakit atau otot terasa tegang, maka secara alamiah reaksi yang timbul adalah tindakan menyentuh, mengusap atau memijat dengan lembut untuk menghilangkan rasa sakit dan mengurangi ketegangan tersebut.

Pijat merupakan salah satu seni pengobatan paling tua di dunia. Pijat dikenal juga dengan istilah ’touch therapy’, yaitu perawatan dengan cara memijat menggunakan gerakan mengusap, menekan, meremas, mencubit, menepuk dan menggetarkan bagian-bagian tubuh yang dilakukan untuk tujuan kesehatan dan kebugaran. Efek dari pijat tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi diyakini dapat ‘menyentuh’ perasaan (psikis). Jika seseorang merasa sedih, maka dia ingin dipeluk dan dibelai sehingga memberikan perasaan nyaman sebagai penyeimbang emosi. Jadi dapat disimpulkan bahwa ‘sentuhan’ dapat menenangkan jiwa (psikis) dan raga (fisik).

Buku tertua yang mencatat tentang pijat ditemukan sekitar 5000 tahun yang lalu di China. Hippocrates sebagai ‘bapak pengobatan’ dan penulis sumpah Hippocrates pada tahun 460 sampai 380 SM menulis dalam catatannya bahwa “seorang dokter harus berpengalaman dalam banyak hal, termasuk dalam hal usapan (rubbing/ anatripsis)”. Selanjutnya pijat berkembang ke arah Persia, Mesir Purba, Yunani hingga ke seluruh penjuru dunia.

Kata Pijat dikenal dalam bahasa Arab sebagai mass’h, dalam bahasa Sanskerta disebut makeh, yang berarti menekan dengan lembut. Dalam bahasa Latin disebut massa dan dalam bahasa Yunani disebut massein atau masso yang berarti menyentuh, memegang, atau kata lain yang sejenis. Dalam bahasa Perancis disebut masser yang berarti mengusap atau meremas.

Sistem gerakan pijat telah dikembangkan oleh seorang ahli fisiologi Swedia dengan menggunakan istilah : effleurage, petrissage, vibration, friction, rolling dan slapping. Istilah-istilah ini masih digunakan hingga saat ini dengan beberapa perubahan atau modifikasi dalam penggunaan istilah maupun pengelompokannya. Penjelasan tersebut menjabarkan elemen dasar pijat yang terdiri dari: menyentuh, mengusap, menekan, meremas, menepuk dan menggetarkan.

Di Indonesia, pijat telah dikenal di masa Bali kuno yang diperkirakan telah ada jauh sebelum tahun 463 Saka atau tahun 541 Masehi di pertapaan Gunung Bulan yang berlokasi di puncak gunung Watukaru Bali. Sebagaimana dimuat dalam ‘Parampara’ (riwayat garis perguruan), pertapaan ini menjadi pusat ‘Paiketan Paguron Suling Dewata’ (Perguruan Seruling Dewata). Diketahui terdapat 5 (lima) ilmu dasar dan 72 cabang ilmu inti yang dipelajari oleh para pertapa, dimana salah satu dari cabang ilmu tersebut adalah ‘ ilmu pengobatan Wailan Sakti’. Ilmu pengobatan ini dibagi atas 5 (lima) golongan besar yang terdiri atas:

1) Taru Pramana (pengobatan dengan bahan tanaman obat),
2) Sato Pramana (pengobatan dengan menggunakan bahan binatang),
3) Mustika Pramana (pengobatan dengan benda-benda mustika, di antaranya dengan energi dari batu, permata, dan lain-lain,
4) Bayu Pramana, pengobatan dengan tenaga dalam, termasuk ‘Sigar Sumangka Delamakan Tangan lan Watis (pengobatan melalui telapak tangan dan kaki yang sekarang dikenal dengan sebutan pijat refleksi). Pantog Rah/Totok darah, yaitu pengobatan dengan menotok atau menekan titik totok darah yang terdapat di sekujur tubuh, sekarang disebut pijat akupresur. Pacek wesi, menggunakan tusuk jarum, sekarang disebut akupunktur,
5) Jiwa Pramana, pengobatan dengan tenaga batin yang pengetahuannya diperoleh melalui meditasi dan merafalkan doa atau mantra-mantra pengobatan.

Di Jawa, dokumentasi penggunaan pijat dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari berbagai ukiran di relief-relief batu candi Borobudur yang dibangun sekitar abad ke 8. Disana digambarkan adanya tradisi perawatan tubuh mulai dari lulur, mandi berendam, termasuk pijat yang merupakan ritual dalam kehidupan para bangsawan dan keluarga kerajaan.

Dalam menjalankan profesi pijat, sangat erat kaitannya dengan kepercayaan yang dianut oleh penggunanya. 
Bagi pemeluk agama Islam yang taat, kegiatan meditasi, tapa brata, pengobatan olah batin serta penggunaan mantra tidak dilakukan bahkan dijauhi. 
Tujuannya semata-mata dalam rangka mengjaga kemurnian tauhid dan akidah yang dianutnya. 
Sebagai gantinya adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah Azza wajjala sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam. 
Tidak lupa, amalan dzikir pagi dan sore serta dzikir penyembuhan yang sejalan dengan kepraktisiannya. 
Olah fisik melalui olah raga dan olah pernafasan, serta yang utama dan tidak boleh dilupakan, bahwa permohonan kesembuhan serta kesehatan kliennya hanya disandarkan kepada Allah subahanahu wa ta'ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *